Han Kang Raih Penghargaan Bergengsi dalam Sastra
Hallyu Zone – Penulis berbakat asal Korea Selatan, Han Kang, kembali menambahkan prestasi gemilang dalam karirnya. Di usianya yang kini menginjak 56 tahun, ia mencatatkan sejarah sebagai novelis Korea pertama yang meraih National Book Critics Circle Award (NBCC) untuk versi bahasa Inggris dari novel terbarunya, “We Do Not Part.”
Penghargaan bergengsi ini diumumkan dalam sebuah acara yang berlangsung di New York pada 26 Maret, waktu setempat. Novel Han Kang dipilih sebagai salah satu karya terbaik di antara publikasi novel berbahasa Inggris pada tahun lalu menurut penilaian para kritikus sastra di Amerika Serikat.
Pencapaian ini terbilang langka, mengingat “We Do Not Part” hanya merupakan novel terjemahan ketiga yang berhasil menyabet kategori ini sejak NBCC didirikan pada tahun 1975. Karya Han ini dipuji karena mampu menggambarkan trauma Tragedi 3 April Jeju dengan cara yang lembut dan mendalam, serta merefleksikan esensi penciptaan dan kebenaran di tengah kehilangan.
Meskipun Han Kang tidak hadir secara langsung dalam acara tersebut, ia menyampaikan ucapan terima kasih melalui pesannya yang disampaikan oleh penerbitnya. Ia menggambarkan karakter-karakter dalam novelnya sebagai individu yang memilih untuk tidak berpisah, berusaha untuk tetap bertahan, dan menjaga harapan dalam kegelapan.
Novel yang ditulis pada tahun 2021 ini dikenal dengan gaya “prosa puitis” yang menjadi ciri khas dari Han Kang. Sebelum dirilis dalam versi bahasa Inggris, buku ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Swedia pada tahun 2024, yang turut berkontribusi terhadap penghargaan Nobel Sastra yang ia terima sebelumnya.
Sebelumnya, “We Do Not Part” juga telah menerima beberapa penghargaan internasional, termasuk Medici Foreign Literature Award di Prancis pada tahun 2023 dan Émile Guimet Asian Literature Award pada tahun 2024. Versi bahasa Inggrisnya, yang diterjemahkan oleh Lee Ye-won dan Paige Morris, mendapatkan sambutan positif di media global. The New York Times menyebut karya ini sebagai “sebuah pengingat menggugah tentang bagaimana peristiwa dan manusia bisa terlupakan,” sedangkan The Guardian menganggapnya sebagai “sebuah mahakarya.”
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya